Tuesday, 4 January 2011

coffee is our date. and my muse

kalau tanpa status, masih ga kita kaya gini?


hem..
apakah memang sepenting itu untuk sebuah status yang bahkan mash terasa semu setelah sebuah penegasan.
ya, baru kemarin. benar-benar satu hari yang lalu saya bertanya pada seorang sahabat yang sekarang berstatus sebagai pacar.
kamu diam. hanya memandang ke arah luar dari ketinggian yang selalu kusukai ini.
"mungkin. hem.. aneh aja rasanya kalo aku belum nembak kamu padahal udah sedeket ini."


kalau emang kita yang sama-sama ga pengen berstatus dulu. entah gimana ceritanya, kamu masih mau sebaik ini sama aku?
masih dalam diam. kamu mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya menggunakan lilin dan membiarkan nikotin yang bercampur dengan tan meresapi pembuluh darah.
menatap dengan pandangan, hem-emang-kenapa-ya?
aku meneruskan, " ga, aneh aja kadang buat aku. status pacar lebih sering dipake buat ngelarang dan bersikap semena-mena sama pacarnya. ngelupain privasi dan jadi harus tau segala sesuatu. aku ga nyaman. dulu pernah dan ga enak."

kamu tertawa lalu berkata, "aku ga suka kaya gitu. kalo emang pacaran dipake buat ngelarang dan segala macem, mending sekalian ngelamar jadi orang tua."
aku tertawa. membenarkan.

jadi, masih ga kita kaya gini?
kamu kembali membuang pandangan ke arah luar. selalu tidak menatap mataku saat berbicara sedikit serius.
aku pun tidak ingin memaksa. membuang pandanganku lurus ke arah rumpun bambu yang ada di depan.
menakutkan? memang.
" masih. walaupun mungkin aku ga ikhlas kalo sampe kamu deket sama yang lain. somehow, ga lama habis aku putus, i just feel like you're mine."
deg! kalau memang saat ini aku sedang duduk bersebelahan dengan orang lain, mungkin aku akan diam dan sembunyi sembari tersenyum dalam cahaya lilin.
tapi ini bukan orang lain.
" sialnya, kamu benar." aku bicara sambil tertawa. memalingkan wajahku untuk melihatmu, tapi matamu tak disana. aku hanya bisa menebak apa yang kamu pikirkan.

kayanya emang cewe sama cowo ga bisa jadi sahabat baik ya.
menghisap rokok. kembali membiarkan tar dan nikotin menenangkanmu, kamu mulai menatap lurus ke depan. bukan padaku memang. tapi buatku mungkin lebih baik begini saat itu.
" kamu bukan orang yang sengaja aku deketin buat dijadiin pacar. bukan. tapi emang aku ga ikhlas kalo sampe kamu deket sama yang lain. pun sampe ada yang ngedeketin aku, aku ga akan milih dia. buat apa aku nge-iyahin orang lain selama aku punya kamu."
lugas. dan tegas. kebohongan tidak pernah terdengar setegas ini bagiku.
jadi yah.. mungkin aku memang 'sedekat' itu sama kamu.

satu yang hilang. aku ga pernah inget masa dimana aku ngeceng kamu. orang lain yang nyadarin aku kalo emang setiap cerita kamu ada yang beda dari cara aku cerita. tentang kamu.
kamu diam. mengambil gelas tinggi berisi kopi yang sudah tersisa sedikit. menghisapnya, lalu akhirnya menatapku.
" kamu. orang yang emang bikin aku nyaman buat cerita. dan aku udah ga bisa boong pura-pura seneng kalo sampe ada yang usaha ke kamu dan kamu tanggepin."


sayaaang, kalaupun emang ada yang usaha apa pun. cukup kamu yang emang aku mau ada di samping aku.
salah ga sih kalau emang aku berakhir dengan selalu pulang ke kamu?

aku gatau ke depannya gimana. aku juga ga bisa jamin kita ga akan pernah berantem atau clash atau bahkan crash atau apapun.
tapi yang aku pengen, kita tetep gini :)

makasih azharan :)