Thursday, 23 December 2010

perfectly imperfect

" turut berduka cita untuk telinga yang sudah tidak bisa mendengar
sebuah hati yang sudah tidak merasa
mata yang enggan melihat
pikiran yang selalu menyangkal
selamat datang jiwa yang mati di raga yang sehat "

aku mulai kehabisan tenaga, ayah.
untuk sebuah pembuktian yang tak kunjung kau lihat.
dengan sebuah bentuk kepedulian yang selalu kau tampik.
kalau memang kau ingin tak peduli, bukan berarti semua pun harus begitu.
bahwa dunia kita berbeda.
perasaan akan sebuah lelah yang kian menumpuk, mungkin aku sudah tidak bisa meledak.
karena lubang hitam yang kuciptakan untuk menyimpan semua sakit sudah berkembang terlalu besar.
menghisap terlalu banyak. mengetahui terlalu jauh.
dan sebuah hati sedang bertaruh di tepinya.

idealismu mulai membunuh aku perlahan.
meredupkan yang tidak pernah menyala.
menghentikan yang belum sempat dimulai.

sekali ini, ayah.
terima kalau memang aku bukan anak yang sempurna.
bahwa aku berbeda, darimu.