kerjaan saya sekarang hanya sampai pada memandang layar putih kosong yang mengais untuk digurat.
rindu rasanya mengalirkan kata-kata dan bertingkah selaku pelukis yang sedang menggores kuas kecilnya di kanvas.
saya hanya rindu masa-masa dimana hari itu dengan jelas tak kan kembali.
tidak sekarang, tidak juga nanti.
mungkin suatu saat nanti. saya percaya hal itu seiring dengan kepercayaan saya akan adanya sebuah reinkarnasi.
nihil.
nyaris sempurna mendekati ketiadaan.
saya rindu saat malam saya damai tak terusik dengan dentingan detik yang kian mendekatkan saya dengan fajar.
saat memang hanya ada malam dan hening yang bersatu menguapkan pagi.
dan ketika pagi yang ceria mulai bangun, kami bisa berpisah baik-baik.
akhir-akhir ini hidup kembali
hidup dengan area abu yang semakin hari terasa semakin meluas.
mengeliminasi mimpi-mimpi yang selama ini membuat saya hidup.
bahwa pergantian malam dan pagi pun terasa semakin kabur.
hanya disatukan oleh kepanikan yang nampak memang nyata.
tapi tetap saja sisi pemimpi bagai anak kecil yang sedang terbuai tidur selalu ingin kembali meruak.
menepis kenyataan dengan segenggam ego.
kembali terlelap dalam mimpi indah.
untuk semua wanita adalah putri.
dan seorang pria adalah pangeran yang menemukan sepatu kaca sebelah, atau putri yang sedang tertidur sekian lama, atau putri yang meninggal karena racun, atau seorang duyung yang rela menjadi manusia.
atau mungkin sebenarnya saya yang terlelap terlalu lama dengan mimpi indah di sebuah pulau yang memang tidak pernah ada?