Kampus. 27 November.
sudah genap tiga bulan aku ada di kampus ini.
dan sudah genap tiga bulan aku sama sekali tidak pernah melihat Danis.
atau mungkin orang yang mirip dengan Danis.
atau mungkin sebenarnya orang itu sama sekali tidak ada.
mungkin hanya sekedar halusinasi saja.
ah ya, entahlah.
tapi hidung dan matanya.
juga bentuk tegap tubuhnya saat berjalan.
begitu... Danis.
hahhhhh.. entah apa yang kupikirkan.
sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku melihat Danis.
mengingat segalanya sedetail itu terasa agak tidak mungkin.
"...... kelas hari ini cukup. terima kasih." samar-samar kudengar suara seseorang.
Oh. yah, ternyata suara yang terdengar jauh itu adalah suara dosen yang sedang mengajar di kelas yang saat ini kutempati.
ternyata menulis 2 digit angka dan satu nama bulan bisa membuatku melambung begitu tinggi.
aku segera membereskan barang-barang dan berjalan dengan sedikit tergesa ke luar.
hari sudah sore saat aku menapaki lorong terbuka di kampus ini.
langit berwarna jingga kemerahan dan berangsur semakin merah.
17.46.
dan aku sudah telat 16 menit untuk bertemu dengan orang yang akan membantu kepindahanku.
hegh. jam ngaret. kuliah mulai ngaret, apalagi selesainya.
BRUK
" ah. maaf.."
" Maaf juga. maaf saya keburu-buru tadi."
Deg. suara itu. oh tidak, jangan mulai berhalusinasi lagi.
aku segera membereskan buku yang tadi berantakan dan baru akan menyerahkan pada pria yang tadi bertabrakan saat...
" Pake softlens, Ray?"
Danis.
Orang yang kutabrak memang Danis.
aku mengangguk kecil sebagai jawaban.
" cantik."
aku terdiam.
Yeah, great. setelah sekian lama tidak bertemu, reuni ini hanya membuahkan rona kemerahan lain padaku.
sekali lagi terselamatkan oleh senja.