Vonis jatuh
Gagak menjerit
Lagit hitam datang menggebu
Menjerit kelam dalam kepasrahan
Wanita duduk diam sebagai pencandu
Bahwasanya kenyataan ia menyadari dirinya sebagai candu
Entah mengapa terasa mulai menitik
Menggaris urat nadi tepat seperti sebilah belati membagi kertas tipis setebal helaian rambut
Dari sini pena mulai mengalun secara absurd
Membentuk sebuah kisah abstrak yang menjelma dalam nyata
Berderai mata seiring runtuhan nada
Haruskah malamnya datang sekelam ini?